Garut, Pemikiran Rakyat – Dunia anak sejatinya adalah dunia yang penuh warna, tawa, dan imajinasi. Dalam setiap langkah kecil mereka, bermain bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana utama dalam tumbuh kembang, belajar, dan mengenal kehidupan.

Para ahli pendidikan menegaskan bahwa bermain merupakan hak dasar setiap anak, sebagaimana tercantum dalam Konvensi Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk beristirahat, bersenang-senang, dan berpartisipasi dalam permainan serta kegiatan rekreasi yang sesuai dengan usianya.
Kepala SD IT Miftahul Huda, Putri Sri Apriani, S.Pd, menjelaskan bahwa bermain adalah bentuk alami dari proses belajar anak.
> “Melalui bermain, anak belajar memahami dunia sekitarnya, mengasah kemampuan berpikir, berinteraksi sosial, serta menumbuhkan kreativitas dan empati,” ujarnya dalam kesempatan kegiatan edukatif yang bertemakan ‘Dunia Anak Adalah Bermain’ di lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut berlangsung meriah di halaman sekolah yang dipenuhi tawa riang para peserta didik. Anak-anak tampak antusias mengikuti berbagai permainan edukatif seperti fun games, lomba kreatif, hingga permainan tradisional yang sarat nilai kebersamaan.
Selain menyenangkan, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat karakter anak, melatih kerja sama, dan menanamkan nilai kejujuran serta sportivitas sejak dini.
Guru pendamping menyebut, pendekatan pembelajaran melalui bermain menjadi strategi efektif dalam menerapkan Kurikulum Merdeka, yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman dan minat peserta didik.
“Anak-anak belajar banyak hal saat bermain — mulai dari menghitung, mengamati, hingga belajar menyelesaikan masalah. Dunia anak memang tidak bisa lepas dari bermain, karena di sanalah mereka menemukan jati diri dan kebahagiaan,” tambah salah satu guru pendamping.
Dengan semangat kebersamaan dan kasih sayang, kegiatan ini menjadi simbol bahwa sekolah tidak hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan keceriaan, cinta, dan karakter positif.




